Minggu, 05 Agustus 2012

Penginjilan, Inisiatif dan Bukti Kasih Allah Kepada Manusia


Penginjilan sebagai salah satu tugas esensial gereja perlu dilihat dari sisi inisiator dan motifasi yang mendorong inisiator untuk melakukannya. Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mencatat bukti-bukti penting tentang inisiator dan motifasi yang mendorongnya untuk mengadakan penginjilan. Perhatikanlah fakta-fakta berikut ini yang tertera pada tabel di bawah ini. Alkitab mencatat dengan sangat jelas tentang sikap Allah terhadap manusia sebelum dan sesudah kejatuhannya ke dalam dosa.
Sebelum Manusia Jatuh dalam Dosa
Sesudah Jatuh dalam Dosa
1.      Hubungan Antara Manusia Dengan Allah Sangat Intim.
 Bukti-buktinya:
-   Allah memberi perintah langsung kepada manusia untuk beranakcucu, serta memenuhi bumi, dan menaklukkan bumi (Kej. 1: 28),
-   Allah menjelaskan jenis makanan yang layak untuk manusia (Kej. 1: 29),
-   Allah memberikan otoritas serta kepercayaan kepada manusia untuk mengusahakan taman Eden (Kej. 2:15),
-   Allah memberikan perintah larangan kepada manusia dan menjelaskan akibat yang akan dialaminya apabila tidak mematuhinya ( Kej. 2: 17),
-   Tuhan membuat manusia berbeda dengan mahluk ciptaan-Nya yang lainnya (Kej. 2: 9, 18-22).
2.      Manusia menerima sesamanya dengan penuh penghargaan (Kej 2: 23-24)
3.      Allah merupakan sumber kehidupan manusia.
 Bukti-buktinya :
-       Tuhan Allah menyediakan segala kebutuhan jasmaniah manusia (Kej 2: 8-9),
-       Tuhan Allah menyediakan kebutuhan jiwa manusia (Kej 2: 18-22).
1.      Keintiman Hubungan Itu Terputus.
Bukti-buktinya :
-    Manusia berusaha menarik diri dari perjumpaan dengan Allah dengan bersembunyi di antara pohon-pohonan dalam taman (Kej. 3: 8),
-    Manusia takut bertemu dengan Allah (Kej. 3: 9-10),
2.      Manusia tidak menerima sesamanya seperti pada waktu Allah menciptakannya, manusia cenderung menyalahkan  sesamanya, dan benda-benda lain di luar dirinya ( Kej. 3: 12),
3.      Perempuan akan mengalami sakit pada bersalin (Kej. 3: 16),
4.      Manusia harus bersusah payah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama di muka bumi ini (Kej. 3: 17),
5.      Allah tetap campur tangan dalam kehidupan manusia.
Bukti-buktinya :
-      Allah membuat satu ketetapan tentang akan adanya penyelamatan di masa depan (Kej 3: 15),
-      Tuhan menjelaskan akibat yang harus dialami oleh manusia (Kej 3: 17-19),
-      Tuhan Berinisiatif menutupi ketelanjangan manusia (Kej 3: 21).

Tabel 1. Perbandingan Sebelum dan sesudah manusia jatuh dalam dosa.

Pada tabel di atas, satu bukti menyatakan bahwa setelah jatuh ke dalam dosa, “mereka takut bertemu dengan Allah” (Kejadian 3:8). Pada waktu Adam dan Hawa mendengar langkah kaki Allah, Adam dan Hawa lebih memilih bersembunyi  dari hadapan Allah karena takut bertemu dengan-Nya. Chales dalam Wycliffe Commentary  memberikan pendapat tentang kata “takut” sebagai satu keadaan takut disertai dengan perasaan terteror.[1] Tomatala menegaskan, perasaan takut dan terteror itu  terjadi karena Adam diperhadapkan kepada hukuman  kematian terhadap kebenaran (Kejadian 2: 17; 1 Petrus 2: 24) dan hidup untuk dosa sebagai akibat dari ketidak-taatannya.[2] Dalam keadaan itu, Allah tidak mendekati mereka dalam guntur atau  dengan panggilan yang kasar.[3]  Dalam kasus tersebut, posisi Adam secara yuridis (kata “yuridis” artinya menurut hukum; secara hukum[4]) terbukti melanggar perintah Allah.[5] Pada waktu Adam mengetahui dirinya telah bersalah karena gagal mentaati perintah Allah (Kejadian 2: 16,17), Adam  beserta isterinya berusaha untuk bersembunyi dari Allah. Dalam kasus tersebut, Allah-lah yang berinisiatif untuk menemukan mereka.

Latar Belakang Masalah

Penginjilan merupakan salah satu tugas esensial gereja, karena  tugas ini diperintahkan langsung oleh Tuhan Yesus kepada gereja sebelum Ia terangkat ke sorga. Perintah itu disebut sebagai Amanat Agung, dan di dalamnya tertuang langkah-langkah yang harus dilakukan gereja pada waktu melaksanakan tugas ini.
Penginjilan sebagai satu tugas, pada mulanya ditanggapi oleh gereja sesuai dengan isi amanat yang diterimanya dari Tuhan Yesus. Alkitab memberikan catatan-catatan penting tentang pergerakan gereja mula-mula dalam meresponi tugas ini. Sebagai bagian dari tugas utamanya gereja masa kini pun masih mengakui penginjilan sebagai tugas dan tanggung jawabnya. Menjadi pokok permasalahannya bagaimana gereja meningkatkan keefektifan penginjilan sebagai salah satu tugasnya, khususnya di tengah masyarakat yang majemuk.
Penginjilan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh gereja. Apakah gereja mampu menghadapi tantangan demi tantangan yang ditemukannya di tengah masyarakat dunia ini, khususnya ketika ia diperhadapkan dengan masyarakat yang majemuk? Atas dasar pemikiran ini, penulis mencoba menggali kebenaran firman Allah dan meneliti buku-buku hasil riset dari beberapa pakar yang membahas tentang gereja, penginjilan dan masyarakat di sekitar gereja. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menyajikan karya tulis ini dengan judul: “Penginjilan Di Tengah Masyarakat Majemuk: Tantangan dan Solusinya.”

Rabu, 11 Juli 2012

Mengalami Pertolongan dari TUHAN Yesus!

Markus 5: 21-34
Pendahuluan:
Hidup dan kehidupan kita di dalam rentangan waktu di bumi ini merupakan sesuatu yang :
  1. Bersifat real karena hidup manusia itu adalah nyata, dapat dilihat prosesnya, dan dirasakan suasanya,
  2. Tetapi hidup manusia itu juga merupakan satu mistery karena tidak seorang pun yang tahu dengan pasti dia harus lahir di keluarga mana, dibelahan bumi mana, dalam strata sosial yang seperti apa, bahkan tidak seorang pun tahu dengan pasti apa yang akan terjadi .
Dari sisi kehidupan yang bersifat mistery, terkadang kita tidak mengerti mengapa ini dan itu harus terjadi. Sebagai contoh : Dave Branon mengisahkan hal yang terjadi dengan anak mereka Melissa. Brannon menuliskan kisahnya di http://alkitab.sabda.org/illustration.php?topic=71
“Bagaimana ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan putri kami yang cantik, Melissa, diambil dari keluarga kami dalam kecelakaan mobil pada usia 17 tahun? Dan bukan kami saja. Sahabat kami, Steve dan Robyn, juga kehilangan putrinya Lindsay—sahabat Melissa—9 bulan sebelumnya. Dan bagaimana dengan Richard dan Leah yang putranya Jon, teman Melissa juga, terbaring dalam sebuah makam yang berjarak 45 meter dari makam Lindsay dan Melissa?"
Bagaimana mungkin Allah mengizinkan ketiga remaja kristiani ini meninggal secara berturut-turut dalam waktu 16 bulan? Dan bagaimana kami dapat tetap memercayai-Nya?
Kematian merupakan salah satu bentuk persoalan yang sulit untuk kita mengerti. Artinya masih banyak bentuk persoalan hidup lainnya yang mungkin dapat merampas kepercayaan kita kepada Allah dan alasan kita untuk hidup. Untuk itu, saya mengajak Bapak/ibu/saudara/saudari sekaliannya untuk membaca kitab Markus 5: 21-40
21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." 24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. “25. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.” 27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya 28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.“ 29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. 30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" 31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. 33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. 34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" 36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" 37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. 38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. 39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" 40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
Dari nats yang sudah kita baca tadi terdapat dua sesi Cerita yang menarik untuk kita bahas. Tetapi dari hasil penelusuran saya akan nats-nats tersebut, saya meringkasnya menjadi satu kalimat pendek:

Setiap orang Percaya dapat mengalami pertolongan dari TUHAN YESUS

Bagaimanakah setiap orang Percaya dapat mengalami pertolongan dari TUHAN YESUS?


Syarat-syarat Bagaimanakah setiap orang Percaya dapat mengalami pertolongan dari TUHAN YESUS


Rendahkan Diri dan Hati, Serta akuilah bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan Keluar atas masalahmu

Hal tersulit bagi seorang pemimpin sekelas Yairus adalah merendahkan diri dan hati. Ayat 21b-24a menyatakanan (Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." 24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu). Perhatikanlah “tersungkurlah ia di depan kaki-Nya (kaki Yesus). Tindakan Yairus ini memiliki makna yang sangat dalam. Yairus mengakui otoritas Yesus jauh lebih tinggi darinya. Sekali pun banyak pemuka agama Yahudi pada masa itu tidak mengaku Yesus, tetapi Yairus memberikan sikap yang berbeda.

Sebagai seorang pemimpin rumah ibadat Yahudi, Yairus mengetahui bahwa hanya kepada Tuhan saja seorang Yahudi menyembah sesuai dengan hukum taurat. Lalu mengapa Yairus menyembah kepada Yesus? Tindakan Yairus ini sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa dia (Yairus) mengenal Yesus lebih dari sekedar manusia biasa. Dia mengenal Yesus lebih dari pada petinggi agama Yahudi lainnya. Yairus juga mengakui bahwa hanya Yesus saja yang dapat menyelesaikan masalahnya. Adakah Anda telah mengenal Yesus secara pribadi? Adakah Anda telah menjadikannya sebagai satu-satunya yang berkuasa atas hidupmu? Saudara, pengenalan yang benar kepada TUHAN Yesus akan menolong kita untuk menghormati-Nya lebih dari segala sesuatu yang kita punya. Pengenalan itu juga yang akan menolong untuk bertindak benar ketika situasi hidup tidak memungkinkan untuk kita bertindak benar. Marilah tinggikan Yesus sebagai Tuan yang berkuasa atas seluruh hidup kita.

Jangan Menyerah Untuk tetap berharap Pada-Nya

Yang menarik dari perikop ini adalah :
  1. Anak Yairus yang berusia 12 tahun sakit hampir mati (Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.“ Mark 5: 21b-23), dan
  2. Perempuan yang pendarahan 12 tahun (“25. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.” Mark 5: 25-26).
  3. Kedua orang ini berada dalam masalah yang sangat kritis. Ketika mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus, Markus mencatat “pada saat yang sama banyak orang datang kepada Yesus dengan berbagai keluhannya masing-masing.” Perhatikanlah ayat 21 dan 24b “21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. 24b.Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.” (dalam terjemahan yang lain disebutkan bahwa orang-orang datang kepada Yesus dengan kepentingannya masing-masing).
  4. Sungguh keadaan yang mustahil bukan? Namun Yairus dan perempuan itu tidak patah harap. Mereka menaruh pengharapannya kepada Yesus .
  5. Yairus seorang terhormat dan perempuan yang pendarahan seorang yang hina, keduanya mendapat perhatian yang sama dari Tuhan Yesus.
  6. Dalam kedua cerita ini Markus menuliskan fakta
    •  Jairus kepala rumah ibadat Yahudi dapat menemui Yesus dengan mudah, tetapi anak perempuannya malah meninggal.
    • Setelah 12 tahun Perempuan itu mencari kesembuhan kemana-mana hingga habis segala yang dia punya, ditambah lagi tradisi taurat yang tidak memperbolehkannya untuk bersinggungan dengan orang-orang di sekitarnya, harusnya membuat dia mati dalam keputus-asaan. Tapi 6. Perhatikanlah ayat 27-29 dan 35-40: 7. Apakah Yang membuat Yairus dan perempuan itu tidak menyerah dengan situasi yang sulit itu?
    8. Markus menyatakan kepada kita bahwa perempuan itu sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, dan Yairus mendengarkan langsung dari Yesus : : "Jangan takut, percaya saja!" . 9. Pada kesempatan ini saya mau mengatakan kepada sidang jemaat Tuhan di tempat ini, entah saudara mendengar perihal Yesus dari perkataan orang, atau saudara mendapat penegasan langsung dari Yesus, apa pun keadaan yang sedang engkau hadapi “percayalah bahwa Yesus pasti akan menolong sesuai dengan cara dan waktu-Nya.” 10. Ketika keadaan semakin tidak bersahabat, janganlah mundur dari Tuhan. Maju dan kobarkanlah semangat iman-mu. Mari kita berkata kepada tubuh, jiwa dan roh kita: “Tuhan aku tetap percaya kepada janji-Mu.”

    Kalau saudara masih ragu, saya mengajak saudara untuk menlihat Markus 9 :23 yang mengatakan “bagi orang percaya tidak ada yang mustahil.” dan Luk as 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

    Ijinkan Tuhan Bekerja Secara Tuntas Untuk Menolongmu


    Kehadiran Yesus di tengah umat manusia bukan hanya untuk memberikan janji-janji kosong. Pada Waktu IA menyatakan janji-Nya untuk menolong umat yang berharap penuh kepada-Nya, Ia pasti menolong dengan tuntas. Perhatikanlah fakta-fakta yang Markus berikan di dalam nats tadi :

    Pada waktu Yairus datang dan tersungkur di depan kaki Yesus, Markus menuliskan Yesus mengikuti Yairus, kemudian Markus menunjukkan bahwa perjalanan menuju ke rumah Yairus tidaklah mudah. Banyak orang berdesak-desakan di sekeling Yesus, dan akhirnya anak perempuannya yang berusia 12 Tahun itu meninggal.

    Apakah orang banyak dapat menghalangi langkah Yesus? Tidak...! Apakah kematian sang putri menghalangi Tuhan Yesus untuk menolong Yairus. Tidak...!
     Fakta-fakta lain yang Markus berikan di dalam :
    • Ketika penyakit perempuan itu sudah hilang, Yesus tidak cukup puas hanya menyembuhkan masalah fisik perempuan itu. Karena Yesus tahu bahwa pada hakikatnya perempuan itu masih mengalami masalah yang jauh lebih besar dari sekedar penyakit fisik. 
    • Pendarahan yang di deritanya itu memberikan dampak lain kepadanya. Tadi saya sudah membahas bahwa Perempuan itu hidup di tengah masyarakat yang berpegang teguh kepada hukum taurat. Pada zaman itu, apabila seorang wanita mengalami penyakit seperti ini, maka ia disebut sebagai seorang yang najis. Sehingga ia harus hidup terpisah dari orang-orang di sekitarnya. 
    • Bahkan apa pun yang bersinggungan dengannya juga disebut najis. Hal ini dapat kita temukan dalam tulisan Musa di Keluaran 15: 25 – 30. Dan apabila orang itu sudah berhenti dari penyakit pendarahan yang di deritanya ia harus membeli dua ekor burung tekukur untuk di sembelih sebagai korban pentahirannya.
    • Kitab Markus 5: 26 menegaskan keadaan wanita ini setelah 12 tahun menderita pendarahan ia sudah menghabiskan segala sesuatu yang ia punya. Dan selama itu pula ia harus menerima cap sebagai seorang “NAJIS”. Artinya bahwa wanita itu bisa jadi mengalami kepahitan dengan orang-orang di sekitarnya. Bisa jadi cap itu sudah susah lepas dari dirinya dalam pandangan orang-orang. Karena itu Markus melanjutkan kisah perempuan ini sbb: Markus 5: 30-34 berbunyi:
    •  “30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" 31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. 33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. 34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 
    • Sekali lagi perhatikan Markus 5: 34 “Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" Kalau kita kembali kepada tradisi Taurat, para imam Yahudi mendapatkan otoritas untuk memutuskan apakah status seseorang itu sudah tahir atau belum. Markus mengingatkan bahwa otoritas Yesus jauh lebih tinggi daripada otoritas imam-imam Yahudi. Yesus berkuasa untuk memulihkan keadaan tubuh fisik seseorang, dan Ia pun juga berkuasa untuk menyelesaikan hubungan yang retak kepada sesama dan kepada BAPA. Yesus adalah Tuhan yang kepada-Nya para imam Yahudi turut sujud untuk menyembah-Nya. 
    Pada kesempatan itu Tuhan Yesus memulihkan status wanita itu sebagai orang yang sudah tahir. Yesus mengatakan di ayat 34 "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" di depan banyak saksi.
     Hari ini, kita melihat bahwa Yesus tidak memandang strata sosial seseorang. Siapa pun yang hari ini mendengarkan berita ini, Percayalah bahwa Yesus Kristus tetap sama baik kemarin, hari ini dan sampai selama-lamanya. Karena itu : 
    1. Rendahkan Diri dan Hati, Serta akuilah bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan Keluar atas masalahmu, 
    2. Jangan Menyerah Untuk tetap berharap Pada-Nya 
    3. Ijinkan Tuhan Bekerja Secara Tuntas Untuk Menolongmu 
    Adakah pergumulan hidupmu sepertinya tidak terpecahkan? Mari datang pada Yesus. Berserulah pada-Nya.

Rabu, 21 Maret 2012

Keluarga yang Dipulihkan Tuhan.

Ayub 1-12

  1. Setiap Keluarga dibentuk Tuhan dengan rancangan yang terbaik, untuk tujuan yang baik bagi manusia.
  2.  Iblis tidak senang rencana Allah atas keluarga tetap berlaku,
  3. Allah rindu setiap keluarga kembali berada dalam rencana-Nya, yaitu hidup dalam berkat-berkat-Nya

Proposisi : TUHAN pasti memulihkan Keluarga umat-Nya di akhir zaman
Kalimat Tanya : Bagaimanakah agar TUHAN  memulihkan keluarga umat-Nya di akhir zaman?
Peralihan  : Kriteria-kriteria  Bagaimanakah agar TUHAN  memulihkan keluarga umat-Nya di akhir zaman?.

I.  Kepala Keluarga haruslah sungguh-sungguh takut akan Tuhan (Ayub 1 : 1, 8; 2: 3)


  •  Takut akan Tuhan berarti sungguh-sungguh menghormati Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan (Ayub 1: 1-5),
  • Takut akan Tuhan adalah kunci utama untuk mengalami janji Tuhan (Mazmur 128

II Kepala Keluarga tetap mennggikan Allah Di dalam segala perkara (Ayub 1-12).
  •  Perjalanan Rumah tangga tidak selamanya enak (Ay. 1: 13 -19) perihal masalah property (13-15; 16-17), masalah anak-anak (18-19), masalah dengan perilaku pasangan hidup (2:9-10), masalah kesehatan (
  • Kepala Keluarga lebih mengaharapkan nasihat dari Tuhan daripada nasihat manusia (ayub 3-12).

III. Kepala Keluarga memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan (ayub 42: 1-6)

  • Pengenalan kepada Tuhan jangan dari kata orang, melainkan harus dipelajari sendiri (ay. 5)
  • Pengenalan akan Tuhan adalah satu Proses (Ayub 2:10, 42:5),
  • Pengenalan akan Tuhan menolong kepala Keluarga untuk menuntun anggota keluarganya masuk dalam pengenalan yang sama akan Tuhan (1:4-5)
  • Pengenalan akan Tuhan adalah Kunci memulihkan keadaan orang-orang disekitar rumah kita(42:7-9)