Minggu, 05 Agustus 2012

Penginjilan Dan Korelasinya Dengan Amanat Agung


Penginjilan sebagai salah satu tugas esensial gereja pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari Amanat Agung, yaitu amanat yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga. Amanat tersebut dicatat oleh Matius, Markus, dan Lukas sebagai berikut:
1.      Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”  (Matius 28:18-20).
2.      Lalu Ia (Yesus) berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk, siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya; mereka akan mengusir setan-setan dalam nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Markus 16: 15-18).
3.      Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan aku akan mengirim kepada kamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat yang tinggi” (Lukas 24:46-49).
Menzies, Horton, Tomatala, serta Autrey berpendapat bahwa tugas inti dari Amanat Agung adalah pergi kepada segala bangsa, kemudian menjadikan orang-orang berdosa menjadi murid Kristus yang taat  untuk melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan.[1] 
Pada topik “Penginjilan, inisiatif dan bukti kasih Allah,” penulis mengutip pernyataan Yesus tentang misi utama-Nya datang ke dunia ini. Menurut penulis jika pernyataan misi ini dihubungkan dengan Amanat Agung, maka pernyataan tersebut dapat disebut sebagai tujuannya, yaitu agar tidak seorang pun yang terhilang. Dalam korelasinya dengan gereja  sebagai penerima dan pelaksana amanat itu, maka pernyataan misi tersebut hanya akan terwujud jika gereja melakukan tugas penginjilan dengan taat sehingga orang-orang yang masih hidup dalam dosa memperoleh kesempatan untuk mendengarkan Injil keselamatan.
Stott menyatakan misi tersebut merupakan tugas gereja yang adalah ekklesianya Tuhan Yesus (kata “ekklesia” berasal dari bahasa Yunani, artinya “yang dipanggil keluar dari dunia ini, untuk menjadi milik-Nya, dan berada sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh ada dan terpisah, semata-mata hanya karena panggilannya”).[2]  Gereja dipanggil keluar dari dunia ini oleh Allah, dikuduskan-Nya,  kemudian mengutusnya kembali ke dalam dunia dengan satu amanat untuk memberitakan Injil kepadanya.  Berdasarkan  arti dari kata “ekklesia,” maka gereja seharusnya dipahami dengan dua arti yaitu sebagai gereja yang universal[3] yang artinya kumpulan dari semua orang yang percaya di seluruh dunia, dan gereja dalam arti kumpulan orang-orang yang percaya di satu lokasi tertentu atau disebut sebagai gereja lokal[4] atau kumpulan orang-orang percaya yang berkumpul di satu tempat atau lokasi tertentu, jadi bukan gereja dalam arti gedungnya, dan atau denominasi.
Berdasarkan penjelasan di atas, Amanat Agung adalah merupakan landasan gereja untuk melaksanakan tugas penginjilan, karena di dalamnya  terkandung wujud kasih dan kerinduan Allah kepada umat manusia, yaitu agar tidak seorang pun yang terhilang dan binasa. Perhatikanlah perintah-perintah berikut ini: “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28: 19), dan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk (Markus 16:16).” Dalam perintah tersebut, Tuhan Yesus tidak membatasi wilayah kerja gereja hanya dalam satu wilayah tertentu, atau hanya kepada suku tertentu, dan  atau kepada orang-orang tertentu saja. Perintah tersebut tersebut  memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu kepada semua mahluk yang ada di muka bumi ini.
Pada masa kini pun seharusnya gereja melaksanakan penginjilan berdasarkan strategi yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus, yaitu penginjilan dimulai dari daerah yang terdekat dahulu, kemudian ke daerah-daerah di sekitarnya dan terakhir ke daerah yang lebih jauh lagi yaitu bangsa-bangsa lain yang belum pernah mendengarkan berita Injil. Di sisi yang lain, Tuhan Yesus juga memerintahkan jikalau berita Injil keselamatan itu ditolak di satu daerah, sebaiknya gereja  meninggalkan mereka, dan memberitakannya kepada orang lain yang belum pernah mendengarkan Injil itu (Lukas 10: 1-11).
Amanat Agung memberikan beberapa rambu-rambu kepada gereja pada waktu melakukan tugas penginjilan.
1.      Gereja harus aktif, bukan reaktif.
Yesus berkata “pergi” dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti berjalan atau bergerak maju.[5] Jadi gereja harus bergerak maju untuk memproklamasikan Injil kepada dunia ini (Matius 28:16).
2.      Gereja jangan berhenti pada satu suku tertentu, atau kepada satu kelompok tertentu, tetapi gereja harus membuka mata melihat  semua suku bangsa  yang belum terjangkau. Gereja harus melihat semua lapisan masyarakat dunia ini yang belum mendengarkan Injil Kristus dan kemudian memberitakan Injil kepada mereka (Markus 16:16).
3.      Gereja harus memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan dosa hanya dalam nama Tuhan Yesus (Lukas 24:47).
4.      Gereja harus memuridkan setiap orang yang telah percaya dan mendidik mereka menjadi murid yang taat kepada segala perintah Tuhan Yesus (Matius 28:19,20).
5.      Gereja jangan berhenti pada batas membuat orang menjadi percaya, tetapi juga mengintegrasikannya ke dalam persekutuan orang-orang percaya melalui baptisan  (Mat 28:19; Mark 16:16).
Berdasarkan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan jaminan kepada gereja dalam melaksanakan tugas penginjilan sebagai berikut ini, yaitu:
1.      Gereja tidak bekerja sendiri. Yesus sebagai pemberi amanat tetap menyertai gereja-Nya (Matius 28:20).
2.      Setelah gereja melakukan tugas penginjilan pasti ada yang menerima Injil, mereka yang menerima (yang mempercayai berita Injil tersebut) dan dibaptis pasti diselamatkan (Markus 16:16).
3.      Tuhan Yesus akan mengirimkan Roh Kudus kepada gereja-Nya yang mengasihi-Nya dan yang rindu untuk melakukan tugas penginjilan (Lukas 24:49).
4.      Ada tanda-tanda yang akan menyertai gereja pada waktu melaksanakan penginjilan. Gereja mempunyai kuasa untuk mengusir setan dalam nama Yesus, gereja berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, gereja mempunyai kuasa untuk memegang ular, dan sekali pun minum racun maut tidak akan mendapat celaka, gereja meletakkan tangan atas orang sakit dan orang tersebut menjadi sembuh (Markus 16:17-19).
Dalam menjalankan tugas penginjilan, gereja tidak dapat meniadakan Amanat Agung.  Menurut penulis, apabila Amanat ini tidak ditaati sepenuhnya, penginjilan hanyalah merupakan program semata, dan gereja penuh dengan orang yang tidak memahami arti hidup menjadi orang percaya.



[1] Buku-buku yang dipakai sebagai buku riset dalam penulisan skripsi ini adalah Basic Evangelism oleh C. E. Autrey, Doktrin Alkitab oleh William W. Menzies & Stanley M. Horton, Penginjilan Masa Kini oleh Yakob Tomatala.
[2] John Stot, Satu Umat (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990; Reprint ed. 1997),  p. 10.
[3] Henry C. Thiessen,  Teologia Sitematika (Malang: Penerbit Gandum Mas. 1992), p. 476-478.
[4] Ibid.
[5]Kamus Besar Bahasa Indonesia, p. 670.

Tidak ada komentar: